Gudang Daya

Cikal Bakal

Gudang Daya merefleksikan kebesaran potensi yang ada di dalam setiap kita. Senyatanya setiap detik hidup manusia mengandung sepernik potensialitas. Mungkin potensialitas ide, mungkin data/informasi, mungkin konsep, mungkin ilmu, mungkin juga  kerinduan, mungkin relasi, mungkin tekad. Hanya, di dunia yang semakin kompleks ini, seringkali untuk melakukan inisiatif yang berjangka panjang kernel-kernel kecil ini perlu di tabung, ditumpuk, disalinghubungkan, dibagikan, diadaptasi, direorganisasi, diperam, ditebarkan, dan lain sebagainya.

Impian Gudang Daya adalah untuk mengumpulkan berbagai potensialitas ini, sehingga seiring berjalannya waktu dan melalui tenaga yang terfokus, pada saatnya akan terjadi transformasi menjadi daya penggerak perubahan positif untuk kemajuan, kesejahteraan, dan persaudaraan bumi Indonesia.

Partisipasi dan Kolaborasi

Gudang Daya mengajak anda untuk berpartisipasi submisi tulisan atau isi mengenai beragam topik yang selaras dengan tujuan Gudang Daya, termasuk juga melakukan pertukaran link dengan situs-situs lain yang sejenis. Mari tenun bijaksana bersama.

Hubungi Gudang Daya

Tool Visualisasi dalam Analisa Sistem Kompleks

Satu tool pemetaan/visualisasi yang bagus, untuk membantu pengertian akan isu-isu di dalam kompleks sistem, dan komponen2 sistemik di dalamnya: actor, action, issue, outcome, barrier, state. Juga interaksi/hubungan di antaranya, baik positif maupun negative.

Tampilan ini dibuat dengan format SVG (Scalable Vector Graphics), yang berdasarkan XML dan bisa dibuat di notepad dalam waktu cukup singkat.

 

 

 

 

http://seedvisualization.com/complex-systems/wef/WEFVizualisation

 

Terjemahan Homily Pertama Paus Fransiskus

AFP PHOTO/OSSERVATORE ROMANO
AFP PHOTO/OSSERVATORE ROMANO

Anda bisa tidak setuju dengan saya, namun menurut saya homily/kotbah  perdana Paus Fransiskus tanggal 14 Maret 2013 lalu adalah salah satu pidato terpenting untuk umat Kristen bahkan umat manusia di jaman ini, bila kita menimbang momen unik ini, posisi sang pembicara, serta keadaan dunia modern.

Apakah ini kotbah yang membahas doktrin secara mendalam? Tidak sama sekali, pesannya malah cenderung sederhana. Apakah Paus mempresentasikan dengan luar biasa dan menggugah emosi? Tidak, pidato ini kadang perlahan dan halus, tidak akan memenangkan penghargaan pidato paling menggelegar. Tidak, pidato ini bukan juga pidato yang teramat pandai dari sudut pandang argumentatif ataupun kerumitan logika yang dipakai, walaupun ada makna dalam yang terkandung di bawahnya. Namun, yang tampak di pidato ini adalah kesan kerendahan hati yang mendalam, yang kontras datang dari seorang yang amat ditinggikan, malah sosok tertinggi di jajaran umat Katolik. Selain itu, ada suatu fokus yang intens, fokus terhadap keunggulan satu pribadi diatas segala pribadi, yaitu pribadi Yesus Kristus. Terdapat kesan bahwa suara yang berbicara bukan lagi hanya suara Jorge Mario Bergoglio, manusia, namun adalah suara yang di-inspirasi Roh Kudus sendiri. Silahkan membaca sendiri dan mengambil kesimpulan pribadi anda:

Homily Paus Fransiskus
Sistine Chapel
Kamis, Maret 14, 2013
Bacaan Pertama: Yesaya 2:2-5
Bacaan Kedua: Mazmur 97
Bacaan Ketiga: 1 Petrus 2:4-9
Injil: Matius 16:13-19

Di dalam tiga bacaan, saya melihat satu elemen yang sama: yaitu elemen pergerakan. Dalam bacaan pertama terdapat pergerakan dalam suatu perjalanan; di bacaan kedua, pergerakan dalam membangun Gereja; dan di yang bacaan ketiga dan Injil, terdapat pergerakan dalam pengakuan iman. Perjalanan, pembangunan, dan pengakuan.

Perjalanan. “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN! (Yesaya 2:5). Ini juga hal pertama yang Tuhan katakan kepada Abraham: berjalanlah di dalam kehadiran-Ku dan hiduplah tak bercela. Perjalanan: hidup kita adalah suatu perjalanan, dan ketika kita berhenti berjalan, maka hal-hal menjadi tidak beres. Selalulah berjalan, di dalam kehadiran Tuhan, di dalam terang Tuhan, mengejar suatu kehidupan dengan tak bercela yang Tuhan minta dari Abraham dalam janji-Nya.

Membangun. Membangun Gereja. Kita kadang berbicara mengenai batu (ketika membangun): batu yang padat; tapi juga batu hidup, batu yang diurapi oleh Roh Kudus. Membangun Gereja, Pengantin Kristus, di atas batu penjuru yang adalah Tuhan sendiri. Inilah pergerakan lain dalam hidup kita: membangun.

Ketiga, pengakuan. Kita dapat berjalan sebanyak yang kita mau, kita dapat membangun banyak hal, namun kalau kita tidak mengakui (mengimani) Yesus Kristus, hal-hal menjadi tidak benar. Kita mungkin menjadi organisasi nirlaba yang dermawan, tapi bukanlah Gereja, Pengantin Tuhan. Ketika kita tidak berjalan, kita berhenti bergerak. Ketika kita tidak membangun di atas batu-batu, apa yang terjadi? Hal yang sama yang terjadi dengan anak-anak di pantai ketika mereka membangun istana pasir; semuanya akan tersapu, karena tidak ada ketahanan. Ketika kita tidak mengakui Yesus Kristus, perkataan Léon Bloy muncul di pikiran: “Siapa  yang tidak berdoa kepada Tuhan berdoa kepada iblis.” Ketika kita tidak mengaku Yesus Kristus, kita mengakui keduniaan si iblis, suatu keduniaan yang jahat.

Berjalan, membangun, mengakui. Tapi semua tidak selalu berjalan mulus lurus, karena dalam berjalan, membangun, dan mengaku, kadang-kadang ada goncangan, pergerakan yang tidak sepantasnya jadi bagian perjalanan: pergerakan-pergerakan yang menarik kita mundur.

Bacaan Injil (Matius 16:13-19) berlanjut dengan satu situasi yang spesifik. Petrus yang sama yang mengakui Yesus Kristus, sekarang berbicara kepada-Nya: Engkaulah Kristus, anak dari Tuhan yang hidup. Aku akan mengikutimu, tapi janganlah kita berbicara tentang Salib. Salib itu tidak ada hubungannya dengan itu. Aku akan mengikutimu dalam hal ihwal lain, namun tanpa Salib. Ketika kita berjalan tanpa Salib, ketika kita membangun tanpa Salib, ketika kita mengakui Kristus tanpa Salib, kita bukanlah murid Tuhan, kita adalah duniawi: kita mungkin uskup, imam, kardinal, paus, tapi bukan murid Tuhan.

Keinginan saya adalah agar kita semua, setelah hari-hari anugrah ini, akan mempunyai keberanian, ya, keberanian, untuk berjalan dalam kehadiran Tuhan, dengan Salib Tuhan; membangun Gereja di atas darah Tuhan  yang tertumpah di Salib; untuk mengakui satu kemuliaan: Kristus tersalib. Dan dengan cara ini, Gereja akan bergerak maju. Doa saya untuk kita semua adalah agar Roh Kudus, melalui perantaraan  Perawan Maria yang Terberkati, Ibu kita, akan memberi kita anugrah ini: untuk berjalan, untuk membangun, dan untuk mengakui Yesus Kristus yang tersalib. Amin.

“Surely You’re Joking, Mr. Feynman!”: Adventures of a Curious Character

I knew nothing about Feynman the colorful character when I first leaved the first (digital) page of this delightful book. I closed it being enriched by this Physics professor’s tale of his escapades not only in the scientific realm, but even in those realms far away: art, music, education, travel, dating, gambling, nude dancing, and safe cracking.

The common threads of late Dr. Feynman’s autobiography is his social fearlessness, his hyperactive mind, his uncanny persistence and diligence, and for the most part, his humility. Each of these traits existing on its own in one individual would have already yielded a wonderful persona worthy of knowing, all taken together compound my regret of not knowing him sooner, and resulted in a renewed vigor to develop similar characteristics in my own life journey to a desiredly full, accomplished life.

Visi Fantastis Yohanes Surya: Istana di Padang Gurun?

Realistis atau tidak, klaim Prof. Yohanes Surya bahwa Indonesia dapat mempunyai universitas sehebat MIT ini jarang tersaingi keberaniannya. Beliau mencanangkan target untuk membangun universitas di Indonesia yang menyaingi Harvard dan MIT by 2030. Faktor Sukses Kritis yang dipilihnya sederhana, namun mudah dimengerti, yaitu keberadaan guru, murid, dan fasilitas yang hebat.

Untuk mencapai kondisi guru yang hebat, Surya University sudah mengundang 200 tenaga ahli bergelar PhD dari seluruh penjuru dunia, dan mencanagkan target 1000 tenaga PhD pengajar dan penelity di tahun 2018. Fasilitas Surya University di kawasan Serpong sendiri sedang dibangun dan akan selesai paruh kedua 2013 ini, yang menjanjikan dukungan fasilitas belajar dan research terbaik yang pernah ada di Indonesia. Pengalaman Yohanes Surya dalam melatih dan memenangkan berbagai Olimpiade Fisika di dekade terakhir ini telah juga membuktikan Indonesia tidak kekurangan bahan baku dasar berupa siswa siswi yang berbakat dan gigih yang bersumber dari kolam berisi 250 juta orang.

Pertanyaan yang paling terundang dari perencanaan ini adalah seberapa kesiapan ekosistem lokal yang ada untuk “tempat tinggal” universitas berkelas tinggi tersebut. Karena sebuah university akan paling efektif baru bila didukung faktor-faktor berikut: sumber pendanaan (baik pemerintah maupun sektor privat), kerjasama dengan komunitas akademis sekitar dan badan-badan riset dan pembangunan pemerintahan, dan suatu pasar lokal yang haus akan inovasi yang berlaku sebagai tempat eksperimentasi dan pusat produksi problem-problem untuk dipecahkan. Semua ini diperlukan agar visi Prof. Surya dalam membangun istananya dapat ter-realisasi di atas oasis yang subur dan beragam, dan bukan di atas gurun pasir yang gersang.

 

Referensi:

http://edukasi.kompas.com/read/2013/03/08/20064298/Indonesia.Bisa.Punya.Universitas

Abraham Lincoln, by James McPherson (Pulitzer Prize Winner)

In the middle of life’s busyness as a non-historian, a non-US Citizen even, it is still good for one to be reminded time and time again of great souls, and the lasting deeds they have helped birthed. It is also good for this reminder to be short, to the point, yet weighty and full of mass. This quick 76-page summary serves excellently as such reminder of 1) the triumph of the republic system as the modern world knows it, and 2) the abolition of slavery. I came away finishing the prose inspired, encouraged, informed, and yes, reminded.

Resensi: The Goal karya Eli Goldratt

Bagaimana rasanya menyelesaikan satu buku untuk ketiga kalinya? Dalam kasus buku “The Goal” oleh Eli Goldratt, jawaban saya adalah: kagum. Buku yang pertama ditulis tahun 1984 ini masih mampu menggugah entusiasme, pemikiran kritis, dan perenungan di iterasi ketiga ini. Sebagai seseorang yang belum pernah bekerja langsung di suatu pabrik (plant, dalam bahasa Inggris), “The Goal” tetap mampu memberi gambaran penuh warna dan emosi ketika memaparkan pergumulan Alex Rogo dan tim dalam melakukan perubahan besar membawa pabrik UniCo di Bearington dari ambang kematian menjadi pabrik paling sukses di perusahaan fiktif tersebut.

Pelajaran paling penting dari perjalanan Alex Rogo adalah perlunya untuk terus berpegang pada tujuan dasar berbisnis: tumbuhkan penjualan (throughput), turunkan ongkos operasi (operating expense), dan turunkan inventory. Common sense, seperti kata setiap murid bisnis, namun sangat mudah terlupakan oleh praktisi ketika mereka tenggelam dalam hitung-hitungan efisiensi, prosedural, optimisasi lokal optimum dan operasional yang secara tidak sadar banyak membawa aksi-aksi para pemimpin jadi semakin menjauhi 3 tujuan dasar tersebut. Tahap selanjutnya dalam mencapai The Goals tersebut adalah dengan melakukan analisa Theory of Constraints. Di setiap situasi, selalu ada segelintir kecil sebab-sebab dasar, yang menghambat (constrains) pencapaian hasil optimal secara keseluruhan. Butuh daya analisis dan persistensi yang tidak biasa untuk dapat berfokus melacak, mendefinisikan, dan mengaleviasi penghambat-penghambat dasar ini. Namun besarlah hasil dari jerih payah analisis ini; dan di jaman Knowledge Economy ini, kapabilitas berpikir fundamentalis seperti inilah yang amat strategis dan dibutuhkan oleh organisasi-organisasi yang ada.

Pertama kali saya membaca The Goal adalah 13 tahun yang lalu; tapi saya pastikan bahwa pembacaan ketiga ini tidak akan menjadi pembacaan saya yang terakhir buku karangan Dr. Goldratt ini.

Harapan Pak Supir Angkot

sopirangkot

Siang tadi saya naik angkot dari Bojonggede menuju Depok. Saya duduk di sebelah sopir. Sopir tak henti mengeluh, mengomel dan memaki. Jalan macet dan udara panas sekali. Sopir angkot berusaha keras mengambil tiap celah untuk melaju kencang di kiri atau kanan jalan, memotong jalur dan berebut penumpang dengan sesama angkot sejurusan.

Di Sawangan angkot terpaksa berhenti di tanjakan, macet mengantri di belakang sebuah mobil kijang. Kijang ini kemudian merosot dan menabrak angkot. Sontak wajah sopir berubah sumringah dan bersorak:”Duitin!” Ia segera keluar mengecek angkotnya. Wajahnya menjadi lesu karena tak ada kerusakan sedikitpun. Lecet pun tidak.

Angkot melaju lagi diiringi umpatan dan keluhannya. Di tanjakan berikut wajahnya berubah cerah. Angkot melaju cepat dan menempel amat dekat dengan taksi biru di depannya. Mungkin jarak hanya beberapa cm saja. Tanjakan ini amat tajam. Saya melihat wajah sopir angkot ini amat semangat dan tegang penuh harapan. “Kalau kena gue duitin…dikit aja, gopek aja..” katanya.
Taksi melaju tanpa mundur sedikitpun. Sopir angkot kembali lesu.

Kemiskinan bukan alasan untuk mencari jalan menyusahkan orang lain. Namun realita tadi bukan untuk dikutuki. Itu adalah peringatan untuk meraih juga orang seperti sopir angkot ini.

Pendidikan yang mengubah manusia adalah kebutuhan semua orang. Bukan hanya hak orang-orang yang dianggap baik atau potensial.

 

- Ester Jusuf

20 Desember, 2012

Richard Wurmbrand, endurer of 14 years of imprisonment and torture, speaks about the 7-herbed tea against sufferring

I looked out at the silent congregation. It was, for a moment, as if I were back in my church during the war on the day when the Iron Guard bullies filed in with their guns. Menace was around us, not only in the place where Rugojanu was taking notes. I continued, “Don’t let suffering take you by surprise! Meditate on it often. Take the virtues of Christ and His saints into your life. The pastor I spoke of, my teacher who died for his faith, gave me a recipe for a tea against suffering, and I will give it to you.”

I told them the story of a doctor of early Christian times who was unjustly imprisoned by the emperor. After some weeks his family was allowed to see him, and at first they wept. His clothes were rags, his nourishment a slice of bread with a cup of water every day. His wife wondered and asked, “How is it that you look so well? You have the air of one who has just come from a wedding!” The doctor smilingly replied that he found a remedy for all troubles, and his family asked him what it was. The doctor told them, “I have discovered a tea that is good against all suffering and sorrow. It contains seven herbs, and I shall number them for you.
“The first herb is called contentedness: be satisfied with what you have. I may shiver in my rags as I gnaw on a crust, but how much worse off I should be if the emperor had thrown me naked into a dungeon with nothing at all to eat!
“The second herb is common sense. Whether I rejoice or worry, I shall still be in prison, so why fret?
“The third is remembrance of past sins: count them, and on the supposition that every sin deserves a day in prison, reckon how many lives you would spend behind bars—you have been let off lightly!
“The fourth is the thought of the sorrows that Christ bore gladly for us. If the only Man who ever could choose His fate on earth chose pain, what great value He must have seen in it! So we observe that, borne with serenity and joy, suffering redeems.
“The fifth herb is the knowledge that suffering has been given to us by God as from a father, not to harm us, but to cleanse and sanctify us. The suffering through which we pass has the purpose of purifying us and preparing us for Heaven.
“The sixth is the knowledge that no suffering can harm a Christian life. If the pleasures of the flesh are all, then pain and prison bring an end to a man’s aim in living; but if the core of life is truth, that is something which no prison cell can change. In prison or out of it two and two make four. Prison cannot stop me from loving; iron bars cannot exclude faith. If these ideals make up my life, I can be serene anywhere.
“The last herb in the recipe is hope. The wheel of life may put the emperor’s physician in prison, but it goes on turning. It may put me back into the palace, and even put me on the throne.” I paused for a moment. The crowded church was still. “I have drunk barrels of this tea since then,” I said, “and I can recommend it to you all. It has proved good.”

- Taken from “In God’s Underground” by Richard Wurmbrand

Book Review “Lights In The Tunnel” by Martin Ford – Quick Notes

This book evaluates the danger of machines/automation in reducing the quantity and quality of available jobs. It argues about the risk software/knowledge worker job, hardware job, and intrrface jobs are disappearing.

I am in agreement: the new job creation from creative destruction does not follow a simple rule and may not always result in full replacement of jobs lost. So the danger of disappearing middle class which members are being downgraded to low class is real.

Disagreement: i think overall it is true that in this modern world many jobs are at risk, but certainly not knowledge worker job. Even when singularity finally arrives, the machines whiith human capability will still need time to develop working systems and modelsthat work, and enabling this type of machine learning is not as easy as it sounds. Computing power, for example is just one part of intelligence.

There is also a risk of decreasing middle class, which means the fattening of the top and bottom of the population, which will increase antagonism between the bourgeois and proletariat. How to solve is the question that Ford’s answers (more regulation, and government imposed limits) are not satisfactory.

[ Title Book Review: "Lights In The Tunnel" by Martin Ford - Quick Notes]

[ tags ekonomi resensi jobs pekerjaan ]
[ category resensi ]